Andai..
Kejam,
satu kata yang terlintas dibenakku saat ini.
Begitukah kiranya engkau memainkan hati yang sudah kugembok dengan rapat tanpa satupun berani mengetuknya?
Sungguh,
Gejolak asmara ini tak terbendung saat ujung bibirmu terangkat dan gelak tawamu yang menghiasi suasana.
Leluconmu menggerakan ragaku,
aku tertawa.
Bukan,
bukan karena leluconmu yang kurang lucu itu,
hanya saja parasmu dan senyumanmu yang menyita perhatianku.
Tertipu,
bagaikan kertas putih tak bernoda,
naifku percaya bahwa kau merayu karena menyukaiku.
Namun lambat laun aku pun menyadari bahwa rayumu palsu.
Sungguh palsu.
Kau memasukkanku ke dalam toples berisi bunga,
wangi dan indah.
Namun kau mengunciku pula disana.
Membiarkanku seorang diri merasakannya.
Rasa demi rasa tertelan tanpaku tahu apa yang akan ku makan.
Ternyata, cinta itu pahit sekaligus menyenangkan.
Menyukaimu adalah kesalahanku.
Hanya dalam doa aku meminta agar dapat merelakanmu sepenuhnya.
Melepaskan, mengikhlaskan, semua ini akan berujung jua.
Begitulah aku mengenal cinta dan kejammu memainkan seutas benang yang semula kusut jadi rapih kembali.
(Special req)
Komentar
Posting Komentar